Tugas PKL yang Berbuah Calon Suami

September 2011 yang lalu adalah kali pertama saya dan ketiga teman lainnya menginjakkan kaki di Surabaya, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Paiton Probolinggo, Jawa Timur. Kami berempat akan melaksanakan kegiatan PKL (Praktik kerja Lapangan) di salah satu PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) swasta yang ada di Paiton selama 6 bulan lamanya.

Sebenarnya, bukan sebuah kesengajaan kami memilih Paiton sebagai tempat PKL kala itu. Pihak kampus memang mewajibkan mahasiswanya untuk memiliih tempat PKL di luar daerah, agar mahasiswa bisa leluasa mempraktikkan ilmu yang sudah didapat selama 4 smester terakhir, waktu itu kami PKL di semester lima. Selain karena memang alasan tadi, juga karena terbatasnya industri yang ada di Bangka kala itu, sementara jumlah mahasiswa mencapai ratusan.

Awalnya, saya dan teman perempuan saya, Adek sudah mantap akan memilih tempat PKL di Jakarta saja, tidak terlalu jauh dari Bangka. Kemudian proses permohonan izin, telpon menelpon perusahaan pun dilakukan. Sampai beberapa minggu setelahnya, akhirnya perusahaan tersebut menolak, karena waktu PKL yang terlalu lama. Setelah itu kami masih mencari perusahaan yang ada di Jakarta saja, hingga akhirnya kemudian perusahaan tersebut pun menolak juga. Setelah beberapa kali berusaha menemukan perusahaan tempat PKL di daerah Jakarta, kami pindah ke Bogor. Waktu itu ada seorang kakak kelas SMA juga bekerja di perusahaan itu. Proses permohonan izin dan sebagainya melalui telepon pun dimulai, hingga beberapa minggu lamanya, kami menunggu kepastian, apakah ada tempat untuk mahasiswa PKL atau tidak. Sebenarnya, kami hampir yakin bisa PKL di perusahaan ini. Sayang, lagi-lagi setelah menghubungi untuk yang kesekian kalinya, kami tidak bisa PKL di tempat itu.

Suatu ketika, seorang dosen Bahasa Inggris bercerita tentang pamannya yang bekerja di sebuah perusahaan besar di Jawa Timur yang menawarkan tempat bagi mahasiswa yang ingin PKL di sana. Dan tempat tersebut adalah PLTU swasta yang ada di Paiton. Karena sudah lelah mencari dan ditolak oleh beberapa perusahaan, akhirnya saya dan Adek pun memutuskan akan PKL di PLTU tersebut. Akhirnya fix sudah, saya dan Adek serta dua teman laki-laki kami lainnya resmi diterima untuk PKL di PLTU tersebut.

Rasa-rasanya semua serba dimudahkan untuk keberangkatan kali ini. Sebelum berangkat ke Paiton, bahkan saya sempat mendapatkan job sebagai pemandu wisata dengan bayaran yang lumayan untuk menambah uang saku keberangkatan. Pencarian tempat kos pun dimudahkan kala itu, seorang kakak kelas waktu SMA menawarkan tempat tinggal selama di Surabaya, kemudian kakak kelas yang lain menawarkan diri mengantar kami sampai di Paiton.

PKL pun berjalan dengan lancar. Hingga di bulan-bulan akhir mendekati selesainya PKL, saya kenal dengan seorang Mamas yang juga bekerja di perusahaan tempat kami PKL. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan hubungan kami, hingga akhirnya mas tersebut mengatakan bahwa dia ingin serius dengan saya dan meminta saya menjadi istrinya. Tentu saya terkejut sekali, apalagi tidak ada sama sekali rencana bahwa saat PKL ini saya akan mencari seorang calon suami. Kemudian saya pun menguji keseriusannya dengan menantangnya meminta izin kepada kedua orang tua di Bangka sana.

Masa PKL pun selesai, sekitar bulan maret 2012, kami berempat kembali ke Bangka. Tapi tidak dengan rencana si Mamas meminang saya. Beberapa bulan setelahnya, si Mamas terbang menyusul saya sendirian ke Bangka. Waktu itu ia meminta izin kepada Ayah dan Emak untuk menikahi saya. Saya ingat betul waktu itu apa yang dipesankan oleh Emak kepada si Mamas,” Julia ini anak gadis semata wayang Ibu, selama dia bersama kami, tidak pernah sedikit pun kami sengaja menyakitinya, Emak harap bila nanti kamu jadi suaminya, kamu juga bisa menjaganya dengan baik.” Kira-kira seperti itu pesannya Emak. Duh, sampai mrebes mili rasanya, saya juga tidak menyangka bila Emak akan berpesan seperti itu, so sweet sekali.

Semua proses sepertinya dimudahkan. Permintaan izin kepada kedua orang tua, kepada kedua kakak laki-laki saya, semuanya dimudahkan. Awalnya memang keluarga sempat ragu, karena kami sama sekali tidak mengenal si Mamas dan saya pun baru mengenal si Mamas.  Tapi berbekal keyakinan kepada Allah melalui sholat istikharah rutin yang saya kerjakan sejak pertama kali si Mamas menyatakan ingin menikahi saya sampai ke detik-detik menuju pernikahan, keyakinan itu semakin kuat, padahal dulu tak pernah ada niat saya mau menikah di usia muda.

Izin keluarga akhirnya sudah di tangan. Proses persiapan pernikahan pun dilakukan melalui jarak jauh. Bahkan waktu itu sembari menyiapkan pernikahan, saya juga menyiapkan tugas akhir. Haha. Pengiriman dokumen pernikahan, undangan, semua dilakukan jarak jauh. Hingga kemudian saat yang ditunggu-tunggu tiba. Tanggal 17 Oktober 2012 si Mamas dan keluarga datang ke Bangka, kemudian pada hari jum’at tanggal 19 Oktober 2012, kami resmi menikah dan menjadi sepasang suami istri. Alhamdulillah hingga saat ini kami sudah dianugerahi seorang putra dan sebentar lagi InsyaAllah akan bertambah satu lagi dengan si buah hati yang masih dalam kandungan.

Tugas PKL Berbuah Calon Suami

Akhirnya resmi menikah dengan si Mamas. 🙂

Begitulah, kita memang tidak bisa menebak jalan hidup terutama jodoh seseorang. Tapi yang pasti, yakinlah bila Allah sudah memilihkan sorang jodoh yang baik untuk kita, tinggal bagaimana kita memantaskan diri untuk mendapatkannya.

Cerita di atas akan selalu saya kenang selama hidup, karena termasuk salah satu momen yang paling berkesan  dan tak terlupakan. Mungkin suatu saat akan diceritakan kembali kepada anak dan cucu-cucu, Aamiin. Semoga pernikahan ini  akan terus langgeng dan dilimpahi keberkahan dan diridhoi olehNya, Aamiin.

Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan”

Sebagai sebuah blog baru yang baru beberapa tahun dibuat, blog yang dikelola Mba’ Irawati Hamid sudah berhasil mencapai beberapa prestasi dalam dunia menulis. Ini menandakan bahwa Mba’ Ira memang berbakat dalam dunia tulis menulis, meski awalnya mengalami beberapa kekalahan dan sempat sedikit putus asa, Mba’ Ira terus bangkit dan akhirnya bisa seperti sekarang. Ini bisa menjadi salah satu motivasi untuk saya yang kadang-kadang malas menulis dan ikut lomba karena keder takut kalah, huhu. Semoga kedepan semakin banyak lagi karya yang dibuat dan ditulis oleh Mba’ Ira yang akan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Semangat berbagi kebaikan ya Mba’ Ira, salam kenal dari sepradik.com. 🙂

Tugas PKL yang Berbuah Calon Suami

14 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *