Ukhti, Jangan Pacaran dan Jauhi Zina!

Jangan pacaran dan jauhi zina

Picture credit to pixabay.

Lebaran kali ini Alhamdulillah seperti biasanya kami sempatkan untuk pulang ke rumah orang tua. Ketika pulang saya akan bertanya tentang kabar orang kampung satu persatu dari ibu. Bukan untuk gosip, melainkan lebih kepada rasa rindu kampung halaman dan ingin tahu seperti apa kabar orang-orang yang dulu mengisi kehidupan saya sejak kecil hingga sebelum menikah.

Ada banyak berita yang saya dapatkan. Ada berita kematian, kelahiran, menikah, yang sakit ataupun sehat. Ada satu berita yang menyedihkan dan menyesakkan di hati, ada beberapa kenalan yang dulu ketika saya menikah masih sekolah SMP dan seharusnya sekarang masih SMA, telah menikah dan hamil. Seharusnya ini jadi berita gembira, tapi sayangnya mereka menikah bukan karena sudah siap, melainkan sudah terjadi sesuatu dulu, alias married by accident (disingkat MBA).

Bagaimana semua bisa terjadi? Semua bermula dari pacaran. Awalnya mereka saling suka, lalu mengutarakan perasaannya. Akhirnya mereka sering bertemu dan berujung pada pintu perzinahan. Na’udzubillah.

 Parahnya lagi, ini bukan yang pertama kali terjadi di kampung. Ada empat orang yang ketahuan seperti ini.

Mirisnya lagi, pada tahun 2010 data BKKBN menunjukkan bahwa 51% remaja di JABODETABEK sudah tidak perawan, Surabaya 54%, Medan 52%, Bandung 47% dan Yogyakarta 37%. Ini terjadi di tahun 2010, delapan tahun yang lalu, apakah sekarang berkurang? Tentu tidak! Na’udzubillah!

Bayangkan, bila hamil di usia SMA, bisa diperkirakan usia mereka barulah sekitar 16 hingga 18 tahun. Apa yang biasanya ada di pikiran remaja ketika usia itu? Senang-senang, main-main, jalan-jalan dan lainnya. Dan kini di usia yang seharusnya mereka sibuk menuntut ilmu dan penuh dengan keceriaan, harus digantikan dengan tangisan bayi, begadang di tengah malam, sakitnya ketika melahirkan, emosi paska melahirkan atau lebih dikenal dengan baby blues sindrom, dan lainnya. Jangan pikir mereka akan siap dengan semua itu.

Banyak wanita yang memang menikah dan hamil dengan rencana dan persiapan (tentu dengan usia yang matang), sebelumnya telah membaca buku dan banyak bertanya, ternyata masih terkejut dengan keadaan paska melahirkan. Lalu bagaimana mereka para remaja yang “terpaksa hamil” hanya karena nafsu sesaat?

Apalagi si suami yang menghamilinya. Jauh lebih tidak siap lagi. Mereka laki-laki yang hanya mau nikmatnya saja, sibuk dengan nafsu, tahu apa mereka tentang nafkah untuk istri? Sementara sekolah saja belum selesai? Tahu apa mereka dengan membantu istri untuk urusan rumah tangga? Sementara makan saja kadang masih disuapi orang tua. Ya Allah, akan jadi apa rumah tangga yang seperti ini? Maka tak heran, bila baru satu atau dua tahun, kemudian mereka berpisah.

Lalu apa yang terjadi pada anaknya? Jangan ditanya tentang pendidikan agamanya, tercukupi makannya saja sudah Alhamdulillah sekali.

Itulah dampak dari pacaran. Sesuatu yang dimulai karena mengingkari Allah, maka akan berakhir buruk. Bukankah Allah telah tegas melarang pacaran? Jangankan melakukan zina, mendekatinya saja dilarang!

 

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. [al-Isrâ’/17:32].

 

 

Islam adalah agama pencegahan, karenanya banyak aturan dan hukum yang mengatur jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada manusia. Seperti agar tidak berzina, Allah melarang mendekati semua jalan yang akan mengarah kepada zina, termasuk pacaran di dalamnya. Agar tidak terburu nafsu, mau menikah tapi belum siap, Allah memerintahkan untuk berpuasa. Agar para wanita aman dan tak diganggu, Allah perintahkan menutup aurat dan bepergian dengan mahrom. Agar harta suci dan terhindar dari musibah, Allah perintahkan bersedekah. Agar lelaki tidak mengganggu dan tergoda, Allah perintahkan menjaga pandangan, dan banyak lagi lainnya.

Seperti halnya pacaran, karena Allah tahu manusia adalah makhluk yang lemah, Allah jelas melarang manusia untuk mendekati zina. Apakah pacaran tidak termasuk mendekati zina? Lihat saja mereka yang pacaran, pernahkah mereka memilih untuk bergabung dengan banyak orang dan di tempat terang? Tentu tidak. Bisa kita lihat ketika malam minggu, tempat-tempat yang sepi seperti pantai, bukit atau lainnya akan penuh dengan dua sejoli yang berpegangan tangan, berpelukan atau lainnya, Na’udzubillah!

Seseorang pernah berkata, bila sudah terlanjur MBA, sebaiknya jangan menikah dengan lelaki yang menghamilinya, karena belum tentu ia akan menjadi suami yang baik. Padahal hampir semua calon suami yang baik, tidak akan mencari calon istrinya dengan pacaran! Jadi solusi sebenarnya adalah jangan pacaran sehingga tak akan terjadi hamil sebelum menikah.

Mereka yang pacaran, terutama yang laki-laki, bukanlah mereka yang siap menikah, tapi mereka yang mau mencicipi “nikmatnya pernikahan” tanpa perlu bertanggung jawab atasnya. Dengan pacaran, mereka bebas memegang, merangkul si perempuan atau lainnya, tanpa harus pusing dengan urusan, besok istriku diberi uang belanja berapa? Bila bosan, mereka tinggal katakan putus, lalu ganti dengan wanita lainnya. Tanpa takut akan ada orang yang tahu bahwa mereka sudah menghamili anak gadis orang. Laki-laki yang baik, bila memang benar cinta, dia akan menemui orang tua si gadis, lalu menikahinya. Memenuhi semua kebutuhan si wanita, seperti apa yang ayahnya lakukan dulu, lalu membahagiakannya. Itulah lelaki sejati.

Sementara wanita? Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menjalani hidup dengan penuh penyesalan. Perut membesar, rasa malu, khawatir, dosa, semua jadi satu. Belum lagi cap buruk dari masyarakat yang akan dibawanya seumur hidup.

Sebagian pelaku pacaran berdalih bahwa pacaran adalah cara mereka untuk mengenal calon suami atau istri mereka. Tapi lihatlah berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk perkenalan, bahkan hingga 6 tahun atau lebih lama! Apakah selama itu mereka benar-benar menyiapkan pernikahan? Tidak! Yang mereka lakukan hanyalah bersenang-senang dengan si pacar, berfoya-foya dan lainnya. Menonton berdua, makan, jalan-jalan, dan lainnya. Jarang sekali mereka datang ke kajian yang membahas tentang pernikahan atau lainnya. Maka bila ada yang bila pacaran untuk saling kenal sebelum menikah, sungguh itu hanyalah sesuatu yang semu. Apalagi bila yang pacaran masih usia SD hingga kuliah.

Ada lagi yang berpendapat, pacaran dapat memotivasi belajar. Sungguh sebuah ironi! Bagaimana bisa dua sejoli yang dimabuk cinta dan nafsu, kemudian bisa semangat untuk melakukan suatu kebaikan? Bilapun ada, jelas kebaikan tersebut bukan dengan niat semata karena Allah, melainkan karena ingin dinilai baik oleh pacarnya.


ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”(HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli

)Hadits

 

Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat. Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”.

 

Fakta yang terjadi adalah, mereka yang tidak pacaran, nilai akademisnya lebih baik dibandingkan yang pacaran. Benarlah kata Ustadz Felix Siauw, pacaran tidak akan membuat kita menjadi dewasa, melainkan beradegan dewasa!

Ukhti, dengan semua keburukan pacaran, apalagi yang membuatmu tetap mau bertahan dengan pacaran? Bila kau memang membutuhkan seorang pendamping, menikahlah! Bila belum siap, puasa saja! Dibandingkan harus mengisi hari-hari dengan kemaksiatan, lebih baik kau datang ke kajian ilmu lalu mempelajari islam. Kita tak pernah tahu sampai kapan batas usia kita. Selagi masih ada waktu, bertobatlah dan jangan pacaran! Ingat, wanitalah yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya! Selain itu, suami yang baik tidak datang dari pacaran, melainkan datang ke berbagai kajian ilmu, karena butuhnya ia dengan ilmu, lalu mendatangi orang tuamu dan meminangmu. Wallahua’lam.

 

Referensi:

 

https://muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html

 

https://almanhaj.or.id/4264-jangan-dekati-zina.html

Siauw Felix. 2013. Udah Putusin Aja. Bandung: Mizania

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *