Usia Berapa Abang akan Sekolah?

Usia sekolah anak.

Usia berapa Abang akan sekolah?

Sejak usianya dua tahun, karena badannya yang tinggi dan kelihatan lebih besar dari anak seusianya, pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya atau Abang (panggilan untuk anak kedua kami, red), ketika bertemu orang lain adalah sudah sekolah atau belum?

Apalagi Abang ini tipe orang yang gampang ngobrol bila sudah agak kenal atau terlanjur nyaman dengan orang lain. Dan saya selalu santai menjawab belum, usianya masih 2 tahun, masih kecil sekali.

Hingga kini usianya sudah 3 tahun 6 bulan, saya mulai sedikit bimbang, mau disekolahkan sekarang atau belum ya? Mengingat Abang lahir di bulan Juli, yang bertepatan dengan tahun ajaran baru. Jadi kalau mau sekolah, usianya pas, tidak lebih atau kurang bulannya.

Namun, berdasarkan beberapa artikel parenting yang saya baca dan pengalaman pribadi, menyekolahkan anak terlalu dini bukan suatu yang baik untuk anak. Menurut artikel-artikel parenting dari Bu Elly Risman, psi, usia paling ideal anak untuk masuk sekolah dasar adalah 7 tahun. Bila hendak TK, baru dikurangi 2 tahun. Jadi paling ideal seorang anak yang hendak disekolahkan di TK, bisa mulai dari usianya yang lima tahun.

Saya memang bukan ahli parenting. Anak juga baru usia 3 tahun 6 bulan yang paling tua. Tapi berdasarkan beberapa pertimbangan di atas, sepertinya saya mulai mantap menyekolahkan Abang di usianya lima tahun dan langsung TK.

Sebagai pertimbangan, berikut alasan lebih lengkap mengapa kami memilih memasukkan Abang ke sekolah di usianya lima tahun, tahun depan.

1. Abang belum menunjukkan sikap siap sekolah

Jadi dari bayi hingga usianya 3 tahunan, Abang kalau diajak mencoret, menghubungkan garis, atau kegiatan serupa, seperti tak terlalu tertarik. Baru di usia 3 tahunan lebih, baru-baru ini, dia mulai tertarik untuk berkegiatan seperti coret mencoret tadi. ” Mi, mau ngerjain e pr, kayak Mas Adam dan Mba’ Ana!”, Begitu katanya, karena sering melihat anak tetangga yang usianya lebih tua darinya sering mengerjakan pr bila ia bermain ke rumah tetangga. Karena itu, saya kira usia lima tahun adalah yang paling ideal. Ia tentu sudah mulai paham instruksi dan bisa diajak kompromi.

2. Abang masih sangat bergantung pada orang tua

Mi, tolong ambilkan minum, atau Mi, tolong nyalakan lampu, dan banyak lainnya adalah contoh betapa Abang masih bergantung sekali pada orangtuanya. Kadang bila kemana-mana dia masih memegang jilbab atau gamis saya. Bila ditinggal, dia pun akan menangis.

Jadi menurut Bu Elly Risman, perumpamaannya seperti ini, bila kita belum mahir memasak, lalu tiba-tiba kita dipaksa untuk ikut kursus memasak, yang pelajarannya sudah sangat mahir sekali. Padahal kita pegang pisau saja masih gemetaran, sementara di kelas masak, kita langsung disuruh praktik membuat rendang padang. Bagaimana perasaan kita? Bingung bukan? Begitu pula anak-anak. Di usianya yang masih terlau dini, ia baru bisa belajar tidak ngompol, sementara di sekolahnya, dia harus dipaksa berbaris yang rapi, merapikan baju sendiri, atau lainnya.

Tentu ini masih jadi PR bagi kami, agar ia bisa terbiasa mandiri sejak dari rumah. Agar di sekolah, ia jadi melakukannya dengan senang hati dan bukan karena terpaksa.

3. Kegiatan di rumah dan di Paud, hampir sama

Setelah mengamati beberapa kegiatan di PAUD (pendidikan anak usia dini), kegiatan anak PAUD pada umumnya adalah menyanyi, berdo’a, corat coret, yang kesemuanya hampir sering kami lakukan di rumah. Meski bila dilakukan di sekolah mungkin akan berbeda, saya takut Abang akan bosan.

4. Saya masuk SD 7 tahun dan semuanya baik-baik saja

Saya masuk SD usia 7 tahun. Hasilnya, menurut saya, saya lebih mandiri dibandingkan teman-teman lainnya. Waktu kelas satu SD, bahkan ada teman saya yang masih pup di celana. Sementara saya, sudah terbiasa menyiapkan dan melakukan semuanya sendiri.

Keluarga suami ada yang usia 5,5 tahun, sudah masuk SD. Usia 3,5 tahun, sudah masuk TK. Hasilnya, di sekolahnya dia biasa saja. Bahkan pas SMP, dia sempat tak naik kelas.

Memang tak bisa digeneralisir sih, karena ini kan tergantung individunya masing-masing. Tapi masih menurut Bu Elly Risman, psi, dampak yang akan terjadi bila anak sekolah terlalu dini adalah, akan ada masanya anak-anak akan bosan atau stag, dan kita tak pernah tahu itu kapan. Jadi seperti kanker yang tidak tahu kapan dan darimana ia datang, kemudian tiba-tiba ia akan menyerang tubuh kita.

Apalagi di usia dini seperti ini, anak harusnya bermain dengan orang tuanya. Permainan terbaik adalah bersama orang tuanya.

5. Abang belum menguasai ilmu dasar bila ingin sekolah

Ini harapan saya sendiri sih, bila nanti Abang sudah mulai belajar dengan orang lain, minimal ilmu dasar sudah lebih dulu ia kuasai. Sehingga pahala yang mengalir karena mengajarinya bukan hanya didapat oleh gurunya, tapi juga saya ibunya. Seperti huruf hijaiyah, alfatihah, do’a-do’a sehari-hari, yang nantinya akan ia gunakan terus-terusan sepanjang hidupnya. Saya ingin turut berperan mengajarkannya.

Dari berbagai pertimbangan di atas, kini saya semakin mantap bahwa Abang akan mulai sekolah tahun depan, saat usianya lima tahun. Jadi, Bu Ibu, adakah yang lagi galau kapan mau menyekolahkan anaknya? Sharing di kolom komentar yuk! Semoga bermanfaat ya. 🙂

One comment

  • anak-anakku mulai lebih awal malah mba…di usia 4 tahun. Malah bo sejak 3.5 tahun di Swiss. Memang lebih pada bersosialisasi dan beberapa basic skills. Yang penting anaknya mau..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *