Ya Allah, Lindungilah Rumah Tangga Kami

Ya Allah, Lindungilah Rumah Tangga kami. (Picture credit to pixabay)

 

Mereka bukan baru menikah satu atau dua tahun. Bahkan mereka sudah menikah puluhan tahun. Anak pertamanya yang laki-laki sudah lulus kuliah sejak beberapa tahun yang lalu. Anak kedua yang perempuan baru kelas 2 SMA. Anak ketiga dan keempat masih sekolah SD.

Ketika mengunjungi Emak di Bangka, Emak bercerita tentang keluarga ini. Keluarga yang dari dulu ku lihat sepertinya semua baik-baik saja. Ayah ibunya rukun, anaknya manis-manis.

Sekarang ayah dan ibunya sudah berpisah. Sang ibu sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Beberapa minggu yang lalu ada kejadian ribut-ribut di rumah mereka yang tak jauh dari rumah Emak. Sang istri memergoki sang suami yang membawa simpanannya ke rumah. Memang sudah beberapa bulan ini mereka tinggal terpisah. Sang istri ngamuk tak keruan. Teriak-teriak, lalu menendang, memukul si simpanan. Bahkan banyak anggota keluarganya ikut meramaikan dan menghakimi si simpanan. Belakangan akhirnya mereka melaporkan sang suami ke kantor polisi, lalu si suami juga balik melaporkan keluarga istri yang menganiaya si simpanan.

Ya Allah, saya dengar ceritanya jadi sedih sekali. Bukankah dulu menikah karena saling suka? Dulu beramai-ramai mengiring pengantin mengikat janji di depan penghulu? Setelah puluhan tahun menikah, mengapa ini yang harus terjadi?

Awal mulanya si suami sering sekali keluar kota. Mengurus kerjaan, begitu katanya. Lalu bagaimana nasib anak-anak?

Ya Allah, lindungilah rumah tangga kami. Belakangan diketahui sang suami terlilit banyak hutang.

Kalau memang sudah tak cinta, mengapa harus begini? Berakhir dengan benci? Tak bisakah semua dilalui dengan baik-baik saja? Dulu menikah dengan baik-baik, mengapa sekarang berpisah tak bisa baik-baik. Kini sang istri tinggal di rumah kontrakkan kecil milik keluarganya. Sang suami tak tahu kemana bersama simpanannya.

Saya belum siap untuk poligami. Tapi saya tak mau mengharamkan poligami. Kalau mengambil contoh Rasulullah dulu, rasanya tak pernah Rasulullah SAW menikah karena nafsu lalu menyakiti istrinya yang lain. Semua diperlakukan adil. Sebagian besar istri keduanya adalah janda, yang ditinggal mati suaminya ketika perang. Jika memang syariat poligami dicontoh dari Rasulullah SAW, lalu mengapa enggan mencontoh perilaku Rasulullah kepada istri-istrinya?

Sungguh peristiwa ini banyak membuat saya sedih dan mengelus dada. Semoga Allah melindungi keluarga dan rumah tangga kita semua. Aamiin.

 

#ODOP

#Bloggermuslimahindonesia

#Day16

One comment

  • Mak, duh bacanya jadi berkaca-kaca ngebayanginnya. Dulu waktu belum menikah, berharap segera dipertemukan jodoh. Saat sudah menikah, eh ternyata mempertahankan rumah tangga tidak semudah kelihatannya. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah ya mbakkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *