10 Langkah Penting Memaksimalkan Golden Age Anak

Sumber gambar: Edited from Canva. 

Bunda, tentu pernah mendengar tentang masa keemasan anak atau golden age bukan? Ketika pertumbuhan anak maksimal pada masa ini, ini akan mendukung kehidupan mereka di masa yang akan datang. Karenanya penting untuk orang tua tahu langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan masa golden age.

Sebenarnya, ada banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua, untuk memaksimalkan tumbuh kembang mereka, terutama pada masa golden age. Kali ini kami akan membagikan langkah apa saja yang bisa Bunda lakukan untuk menunjang golden age pada anak.

Apa Itu Golden Age pada Anak?

Sumber gambar: Free Kid Image on Unsplash

Secara harfiah, golden age adalah masa keemasan, yaitu masa-masa penting dalam tahap awal perkembangan anak. Golden age umur berapa? Yaitu mulai dari 0 hingga 5 tahun. Pada masa ini, pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami pertumbuhan yang maksimal.

Dr Eva Devita Spa, mengatakan ini berkaitan erat dengan pesatnya perkembangan fisik, mental, bahasa, emosional, dan kognitif anak. Masih menurut dr Eva, masa golden age menjadi sangat penting bagi anak, juga karena pada masa ini otak mencapai 90% ukuran otak dewasanya. 

Sehingga, bila terjadi sesuatu pada masa awal kehidupan sang anak, tentu akan sangat berdampak untuk kehidupannya di masa yang akan datang.  

Masih menurut Dr Eva, beliau juga mengatakan bahwa masa golden age ini dimulai sejak anak berada dalam kandungan. Karenanya penting sekali untuk anak mendapatkan nutrisi dan stimulasi yang baik pada masa ini, sehingga tumbuh kembangnya dapat lebih maksimal.

Tiga hal penting yang mempengaruhi golden age pada anak, yaitu:

  1. Asih, yaitu kasih sayang dari orang tua dan lingkungan kepada anak.
  2. Asuh, yaitu berkaitan dengan nutrisi dan layanan kesehatan yang seharusnya anak dapatkan.
  3. Asah, yaitu stimulasi untuk anak, bagaimana orang tua memberikan kesempatan anak untuk mencoba hal-hal baru setiap harinya, sehingga anak dapat menjadi lebih pandai setiap harinya.

10 Langkah Penting untuk Memaksimalkan Masa Golden Age Anak

Sumber gambar: five children smiling while doing peace hand sign (unsplash.com)

Berdasarkan penjelasan diatas, tentu dibutuhkan peran orang tua dalam masa golden age. Berikut ini beberapa langkah penting yang orang tua dapat lakukan:

1. Memberikan Kasih Sayang Penuh pada Anak

Sumber gambar: man carrying daughter in black sleeveless top (unsplash.com)

Salah satu hal penting yang mempengaruhi golden age anak usia dini adalah asih, yaitu kasih sayang. Baik itu dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Penting sekali bagi anak untuk merasa dicintai, disayangi  dan berharga. 

Untuk memenuhi kasih sayang kepada anak, tentu setiap orang tua memiliki caranya tersendiri. Meskipun begitu Bunda tak harus melakukannya dengan selalu memberikan hadiah mahal atau barang mewah. 

Hal-hal sederhana seperti bermain bersama, sering memeluk, mendengarkan keluh kesah, atau memasak makanan kesukaan mereka, bisa menjadi berarti bagi anak.

Inilah yang akan membuatnya menjadi berani, percaya diri, dan sikap positif lainnya, karena kebutuhan kasih sayangnya telah terpenuhi sejak kecil.

2. Memberikan Nutrisi Terbaik Sesuai Tumbuh Kembang Anak

Sumber gambar: girl holding two eggs while putting it on her eyes (unsplash.com)

Golden age artinya masa penting dalam tumbuh kembang anak, sehingga seharusnya pada masa ini anak dapat mendapatkan nutrisi terbaik untuk tumbuh kembangnya.

Pada usia 0 hingga 6 bulan, bayi seharusnya mendapatkan ASI eksklusif, makanan terbaik bagi bayi. Mulai usia 6 bulan dan seterusnya, anak mulai mendapatkan makanan tambahan, mulai dari buah, sayur, hingga bubur. Tentu tekstur makanan disesuaikan dengan usia anak.

Sebaiknya anak mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun, untuk memaksimalkan nutrisi pada anak. Kenalkan anak pada semua makanan sehat pada usia dini, sehingga mereka terbiasa dan tahu banyak jenis makanan.

3. Mengajak Anak Bermain Sesering Mungkin

Sumber gambar: man holding boy’s head (unsplash.com)

Banyak orang tua terkadang keliru tentang dunia bermain anak, sehingga memberikan begitu banyak mainan untuk anak. Padahal, poin penting dari senangnya anak dengan bermain adalah hadirnya orang tua saat mereka bermain, terutama sang ayah.

Memainkan permainan seperti ABC lima dasar dengan jari tangan, meskipun kelihatan sepele namun bisa jadi kenangan indah untuk anak.

Elly Risman, psikolog spesialis pengasuhan anak mengatakan, ayah memiliki peranan penting dalam mendidik anak, meskipun ia merupakan sang pencari nafkah. Menurutnya, anak yang tidak terpenuhi kebutuhan bermainnya akan menjadi seorang dewasa yang kekanak-kanakkan.

4. Melakukan Berbagai Aktivitas Terkait Motorik Kasar Anak

Sumber gambar: man in black and red plaid shirt and black pants standing on track field during daytime (unsplash.com)

Motorik kasar adalah perkembangan gerak pada anak, yang meliputi keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, yang melibatkan otot besar. Contohnya seperti berjalan, merangkak, melompat, dan berlari. 

Lagi-lagi Bunda tidak perlu bingung mencari ide kegiatan untuk melatih motorik kasar pada anak. Cukup ajak anak lomba lari bersama atau bermain permainan tradisional seperti cak ingkling, akan jadi aktivitas seru untuk mereka.

Ketika pertumbuhan motorik kasar telah terpenuhi, anak akan dapat melakukan tugas dan aktivitas yang lebih besar di masa depan. 

5. Melakukan Berbagai Aktivitas Terkait Motorik Halus Anak

Sumber gambar: Free Easter Image on Unsplash

Jika motorik kasar berkaitan dengan otot besar, maka motorik halus berkaitan dengan otot yang lebih kecil. Misalnya menulis, menggambar, menggunting, dan lainnya.

Bunda juga dapat mengajak anak bermain playdough bersama dengan membuatnya sendiri dari tepung terigu, kanji, garam, minyak, air dan pewarna. Atau ajak mereka mewarnai gambar lucu yang Bunda gambar atau dapatkan dari internet.

Menurut hasil penelitian dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal, anak yang mengalami gangguan motorik halus menyebabkan terhambatnya anak saat proses belajar. Tingkah laku tersebut berupa malas belajar, malas menulis, dan minat belajar berkurang.

Baca juga: 10 Ide Kegiatan Sederhana yang Saya Lakukan untuk Melatih Motorik Si Kecil – sepradik.com

6. Melakukan Berbagai Aktivitas untuk Meningkatkan Perkembangan Kognitif Anak

Sumber gambar: woman in white green and pink floral dress holding pink and white box (unsplash.com)

Jean Piaget, psikolog asal Swiss, mengemukakan teori perkembangan kognitif anak setelah mempelajari anak-anak di awal abad ke-20. Menurutnya, kecerdasan anak akan berubah seiring pertumbuhan sang anak. 

Selain itu, perkembangan kognitif anak bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, namun juga tentang mengembangkan atau membangun model mentalnya.

Menurut Piaget, setidaknya ada empat tahap perkembangan anak, diantaranya:

1. Tahap Sensorimotor (Usia 18 – 24 bulan)

Pada usia ini, bayi belajar melalui pengalaman sensorik dan motoriknya, sehingga Bunda bisa memberikan kegiatan terkait dua hal ini. Seperti memberikannya mainan yang bertekstur agak kasar, meletakkan mainan berwarna saat anak tidur agar dia berusaha menggapainya, atau lainnya.

2. Tahap Pra-operasional (Usia 2 – 7 Tahun)

Pada tahap ini anak belum bisa menggunakan logika dan pikiran sepenuhnya. Namun pada tahap ini anak mulai mampu berbicara dan memiliki kemampuan bahasa. 

Pada usia ini Bunda bisa melakukan permainan berpura-pura dengan barang kesukaan mereka, seperti boneka, mobil-mobilan atau lainnya. Bermain profesi yang mereka senangi atau sering mereka temui.

Bunda juga bisa memulai mengajak anak memahami emosi mereka, seperti bertanya tentang perasaan mereka saat menangis atau marah.

 3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7 – 11 Tahun)

Pada usia ini anak telah memiliki pemikiran yang lebih terorganisir dan rasional. Namun belum bisa berpikir secara abstrak atau hipotesis sepenuhnya. Pada saat ini anak mulai dapat diajak bermain bersama, karena egosentrisnya mulai berkurang.

Pada saat ini juga anak-anak mulai bisa diberi perintah, tugas atau proyek kecil-kecilan. Bunda bisa memberikan tanggung jawab lebih kepada anak, seperti memintanya menggoreng telur sendiri sambil diawasi, atau memintanya mencuci kaos kaki sendiri.

4. Tahap Operasional Formal (Usia 12 tahun ke atas)

Pada tahapan ini anak mulai memasuki usia remaja dan dapat berpikir secara abstrak. Anak juga sudah mampu memanipulasi ide, berpikir matematis, kreatif, dan menggunakan nalarnya.

Bunda melatih anak dengan memberikan tugas proyek, seperti meminta anak membuat proyek usaha dengan sejumlah modal tertentu. Atau memintanya membuat proyek konkret dari permasalahan di rumah, misalnya membuat jemuran, dan lainnya.

Ketika anak melalui setiap tahapan perkembangan dengan baik, ini akan memberikan dampak jangka panjang yang baik bagi anak.

7. Mengenalkan Anak pada Macam-macam Potensi, untuk Mengetahui Bakat dan Minat Anak

Sumber gambar: four boys laughing and sitting on grass during daytime (unsplash.com)

Yang perlu digaris bawahi bahwa mengenalkan berbeda dengan memaksa. Penting sekali untuk orang tua tahu apa bakat dan minat anak, sehingga dapat dioptimalkan untuk kehidupannya di masa mendatang. 

Penting untuk mengetahui bakat dan minat anak sejak usia dini, sehingga Bunda tahu kemana harus mengarahkan kegiatan anaki. Saat mengenalkannya pada banyak kegiatan, Bunda bisa melihat dari kesukaan dan kemahiran anak. Pada kegiatan apa yang membuat anak senang dan dia mahir dalam melakukannya.

Bunda juga bisa bertanya kepada anak, apakah ia senang melakukannya? Selain itu untuk praktis, Bunda bisa melakukan tes minat dan bakat yang disediakan oleh psikolog atau tenaga ahli.

8. Mengenalkan Anak pada Macam-macam Emosi dan Cara Mengatasinya

Sumber gambar: girl covering her face with both hands (unsplash.com)

Ini dapat dilakukan pada tahap pra operasional menurut Piaget di atas, mulai dari usia 2 tahun. Bunda dapat melakukannya dengan memberi nama pada setiap emosi yang dia rasakan. Misalnya saat anak senang setelah berkunjung ke kebun binatang. “ Adek senang ke kebun binatang? Memberi makan hewan-hewan?”.

Atau bisa juga dengan membacakan buku tentang mengatasi emosi yang baik. Misalnya cerita anak yang marah lalu merusak mainannya, Bunda dapat menyelipkan contoh bahwa membanting mainan ketika marah dapat merusak. 

Lalu Bunda bacakan cerita lain yang memberikan contoh menangani emosi dengan baik.

Saat dia lebih mengerti, ajak anak diskusi tentang berita viral atau dengan menonton film yang memiliki pesan yang baik.

9. Menanamkan Kebiasaan-kebiasaan Baik untuk Ia Terapkan di Masa Depan

Sumber gambar: boy in black long sleeve shirt sitting beside girl in gray sweater (unsplash.com)

Menjadi orang tua berarti menjadi contoh untuk selamanya. Anak akan lebih mudah mencontoh dibandingkan mendengar perkataan orang tua.

Saat Bunda menyuruh anak untuk sholat, sementara anak melihat orang tua tidak sholat, sulit bagi mereka untuk menerima nasihat ini. 

Saat menasihati untuk bersabar, sementara anak melihat orang tuanya yang selalu marah meletup-letup, membuat mereka membandingkan antara perkataan dan perilaku.

10. Memperhatikan Gangguan pada Tumbuh Kembang Anak

Sumber gambar: person holding baby’s index finger (unsplash.com)

Mengapa ini penting? Karena membiarkan satu gangguan kecil pada anak, bisa jadi menjadi masalah besar di kemudian hari. Untuk mengetahui gangguan pada tumbuh kembang anak, Bunda perlu tahu tahapan perkembangan pada anak. 

Jika dirasa tahapan yang anak lalui jauh dari yang seharusnya, maka Bunda bisa mengkonsultasikannya pada dokter anak. Sebaiknya jangan langsung menyimpulkan sebelum melakukan pemeriksaan mendalam dan mendengar kata sang ahli.

Saat gangguan diketahui sedini mungkin, Bunda dapat mempersiapkan langkah pengobatan yang lebih akurat dan cepat, sehingga bisa segera teratasi.

Sama seperti membangun rumah, golden age dapat diibaratkan pondasi dalam membentuk kepribadian anak. Saat pondasi kuat dan benar, akan menjadi bekal yang baik bagi anak untuk menghadapi berbagai ujian di masa depan. Yuk maksimalkan tumbuh kembang anak saat golden age!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *