Benarkah Disiplin Adalah Vaksin Covid-19 Yang Sesungguhnya?

Disiplin adalah Vaksin

Disiplin adalah Vaksin. Picture from pixabay.

Semula, semuanya berjalan biasa saja. Kita menjalani hari penuh dengan tawa dan bahagia. Tanpa ada kecemasan dan juga rasa curiga. Hingga berita itu akhirnya terdengar desas-desusnya di negeri tercinta. Namun kita masih biasa saja, jalani hari tetap dengan gembira. Penuh dengan keyakinan, bahwa kita berfisik baja. Seketika saat dua orang di dekat ibukota mulai terkena, oleh virus yang bernama corona, petaka itu menunjukkan rupanya. Hidup tak lagi sama. Wajah kita mulai tertutup separuh dengan kain rupa-rupa. Aku dan kamu tak lagi bisa bersua tanpa jeda. Penuh curiga, prasangka, benarkah kita semua tak sedang membawa virusnya?

Satu paragraf di atas, bisa jadi sedikit mewakilkan runtutan peristiwa menyebarnya pandemi di negeri ini. Ya, mau diterima atau tidak, covid-19 memang telah memasuki negeri ini. Kita semua sedang berjuang melawan wabah ini. Kalau mau diistilahkan, pandemi ini seperti nasi yang sudah menjadi bubur. Kalau saja kita sigap, siap sedari awal, mungkin nasi itu bisa jadi nasi goreng, nasi biryani, dan nasi enak lainnya. Sayangnya, kita terlambat melakukan itu. Akhirnya terpaksa menerima buburnya, yang mau tidak mau bubur itu kalau bisa jangan dibuang, tapi diolah jadi bubur ayam, bubur manado dan lainnya yang penting masih bisa untuk dimakan.

Lalu, salah siapakah pandemi ini?

Disiplin adalah Vaksin

Sumber gambar pixabay

Beberapa orang berpendapat, bahwa pandemi ini adalah konspirasi. Sebagian begitu yakin, ini adalah murni sebuah virus penyakit. Tak sedikit juga Yang beranggapan bahwa corona sesungguhnya tidak ada, hanyalah sebuah alat untuk menakut-nakuti.
Tapi bagaimanapun, mau real atau tidak, konspirasi atau wabah murni, nyatanya melalui virus ini, 10 ribu lebih orang sudah meninggal dan 100 lebih diantaranya adalah tenaga medis, garda terdepan yang melawan penyakit ini.
Daripada sibuk berdebat memastikan apakah ini benar konspirasi atau murni natural, alangkah lebih baiknya kita selesaikan dulu permasalahan pandemi ini, sehingga korban tidak terus bertambah, seperti kata Bu Tejo di sebuah dialognya di film pendek ‘Tilik’ yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, “Dadi wong ki mbok sing solutif” Artinya kurang lebih, jadi orang itu, yang solutif, dong!
Memang, jika mencari siapa yang salah dalam hal ini, tidak akan ada habisnya. Kalau saya tak salah mengutip, it takes two to tango , istilah yang sering digunakan untuk menyatakan bahwa ada dua belah pihak yang bertanggung jawab dalam suatu masalah. Jadi bukan hanya A, atau B saja, melainkan ada A dan B.
Tentu pemerintah sebagai pemegang wewenang yang seharusnya mengeluarkan kebijakan, punya andil besar dalam percepatan penyebaran kasus covid-19 ini. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa masyarakat kita masih banyak yang belum sadar pentingnya ikhtiar atau usaha untuk menjaga diri sehingga penyebaran virus tidak terjadi besar-besaran. Lihatlah betapa masyarakat ada yang masih harus dimarahi aparat untuk mau menggunakan masker dan menghindari kerumunan.

Apakah vaksin adalah solusi?

Disiplin adalah Vaksin

Ilustrasi vaksin sumber halodoc

Sejak covid-19 viral di seluruh dunia, semua ilmuwan berlomba-lomba menemukan obatnya. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah vaksin, sebut saja salah satunya vaccine sinochem yang dibuat oleh China. Tapi andaikan vaksin penangkal corona memang benar ditemukan, tentu kita tidak bisa semata-mata bergantung pada vaksin, sehingga melupakan protokol kesehatan yang selama ini telah dijaga.
Bisa dibilang vaksin adalah salah satu alat perang kita. Ingat ya, salah satu. Yang lainnya adalah ketentuan Allah, kebiasaan hidup bersih, protokol kesehatan yang senantiasa dijaga, kebiasaan hidup sehat dan segala hal yang bisa digunakan untuk berperang melawan covid-19.

Benarkah disiplin adalah vaksin?

Disiplin adalah vaksin. Begitu kata-kata yang sering saya baca di papan-papan baliho semenjak ada corona, untuk mengingatkan masyarakat betapa disiplin adalah sesuatu yang penting saat ini. Jika diartikan secara tekstual tentu saja ini adalah hal yang membingungkan. Menurut KBBI, vaksin adalah penanaman bibit penyakit yang telah dilemahkan agar seseorang kebal terhadap penyakit tertentu. Sementara kata disiplin dalam KBBI bermakna tata tertib, ketaatan, dan bidang studi yang memiliki objek. Untuk hal ini, tata tertib dan ketaatan adalah arti yang pas. Jadi bagaimana sebuah perilaku bisa menjadi penangkal virus?
Tapi jika kita mengartikannya secara kontekstual, dimana vaksin adalah cara untuk menangkal virus, bisa jadi disiplin adalah jawabannya, setidaknya untuk saat ini. Apalagi jika vaksin sesungguhnya masih belum ditemukan. Disiplin hidup sehat, disiplin terhadap protokol kesehatan, dan disiplin lainnya, termasuk salah satunya disiplin dalam memilah-milah berita terkait covid-19, yang mana fakta dan yang mana hoaks.
Salah satu laman yang bisa kita gunakan untuk mencari tahu banyak tentang vaksin atau covid-19 adalah Halodoc. Disana kita bisa menemukan informasi mengenai gaya hidup, kehamilan, penyakit, tindakan medis yang tepat. Tanya dokter umum dan spesialis kapan saja dimana saja gratis. Tanpa repot antre di apotek. Bahkan kita juga bisa pesan kebutuhan medis atau cek lab kesehatan.

Kita tidak pernah tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Tapi kita bisa tahu, tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk setidaknya membantu mengurangi penularan virus covid-19 ini. Semoga wabah ini segera berlalu, stay safe, stay healthy semuanya. Semoga Allah selalu melindungi kita semua, Aamiin. Sampai jumpa di postingan lainnya ya.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *