Realita Kids Zaman Now, Salah Siapa?

Kids zaman now

Foto credit to pixabay.

Semakin kesini, sepertinya manusia sudah semakin sulit untuk dipisahkan dari teknologi.

Bahkan kita seakan dimanjakan dengan berbagai perkembangan dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi. Salah satunya adalah melalui gadget.

Bagaimana tidak, hanya dengan beberapa ketukan jari dan sedikit sabar menunggu, soto ayam panas di ujung kampung sudah bisa kita nikmati tanpa perlu berpanas-panas dan berdebu ria.

Kita juga bisa langsung bicara dengan teman atau kerabat yang sedang berada jauh di negara Amerika sana, tanpa harus menempuh perjalanan ribuan kilo atau merogoh kocek yang dalam untuk berangkat ke sana.

Selain itu, kita bisa dengan mudah tahu keadaan kerabat kita dimanapun berada, keseharian atau lainnya, melalui foto dan video atau live streaming yang setiap hari mereka bagikan di rumah media sosial mereka.

Tapi sayangnya, semaju dan sehebat apapun teknologi, ia hanyalah ciptaan manusia yang tidak sempurna, yang akan selalu menyisakan catatan negatif di dalamnya. Tanpa diiringi kekuatan iman dan kematangan berpikir ketika menggunakannya, teknologi bahkan akan menjerumuskan kita jauh ke lubang hitam negatifnya.

Sayangnya, anak-anak yang notabene polos, punya keingintahuan yang tinggi, selalu tertarik dengan hal baru, kini banyak yang menjadi korban. Kids zaman now, begitu orang-orang menyebutnya, tingkah laku nyeleneh anak-anak sekarang ketika menggunakan teknologi, terutama di media sosial.

Bila kamu generasi yang lahir di era 90an, pasti tidak asing lagi dengan permainan gundu, gobak sodor, lompat tali, petak umpet atau lainnya. Hari-hari anak-anak kala itu, dipenuhi dengan berbagai aktifitas fisik yang seru dan menguras keringat. Handphone sudah ada kala itu, tapi tidak semua anak memilikinya. Karenanya tidak semua anak sibuk memegang handphone nya.

Saya sendiri lahir di tahun 1990 (masih belum tuwir kan ya, haha), kala itu, hape pertama yang saya miliki adalah nokia 3100 (kalau saya tak salah ingat). Waktu itu harganya masih satu jutaan, dibelikan ayah karena kasihan melihat anaknya yang tidak punya handphone, sementara anak lain sudah punya. Saya masih SMP kala itu. Tapi meskipun begitu, anak-anak seumuran saya kala itu tidak sibuk sendiri dengan telepon genggamnya, kami masih asyik mengikuti berbagai kegiatan di sekolah. Kala itu belum ada yang tahu media sosial, karena sebagian besar hape masih digunakan hanya untuk sms atau nelpon.

Kemudian ketika SMA, hp saya malah paling jelek diantara semua teman, hape tutitut, sementara hp teman-teman sudah bisa lihat video dari hp. Waktu itu baru masuk friendster. Sebagian besar teman saya memiliki akun friendster. Tapi tidak dari hp, melainkan dari bilik-bilik warnet, alias warung internet. Jadi kala itu yang aktif di friendster adalah mereka yang aktif nongkrong di warnet, haha.

Barulah sejak kuliah, facebook mulai digandrungi. Saya ingat betul waktu itu hp saya adalah nexian, hadiah doorprise di sebuah seminar (nggak modal banget ya, hihi). Waktu itu, hampir semua teman saya sudah memiliki akun facebook. Jaringan wifi sudah banyak ditemukan di kampus atau warung makan. Tapi tetap belum seaktif sekarang, hanya membagikan sedikit status-status yang terkadang tak jelas, haha.

Kemudian ketika menikah, saya mulai menggunakan android yang lumayan dan mulai aktif di media sosial, terutama facebook dan instagram. Kini, saya bisa tahu apa saja yang dilakukan teman-teman di luar sana, bagaimana kesehatannya, masak apa mereka hari ini,kemana mereka hari ini, baju apa yang mereka pakai hari ini, jam berapa mereka tidur, berapa jumlah anaknya, dan banyak lagi lainnya, melalui foto dan video yang mereka bagi di mesosnya.

Memang harus diakui, saya adalah orang yang kepo (haha, tutup muka emoticon). Sekarang mulai dari nenek-nenek, sampai bayi aktif di media sosial. Bayi baru brojol itu juga sudah punya akun media sosialnya. Maka menurut saya, tak heran bila anak-anak sekarang begitu aktif dengan hapenya, dengan dunia media sosialnya, namun kurang berkegiatan fisik. Sayangnya, aktifnya mereka di dunia media sosial ini, lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya. Apa yang mereka bagikan di media sosial mereka? Kemesraan dengan teman sebayanya, yang katanya adalah pacarnya, kemudian dipanggil Bunda Papa, Ayah Mama, atau panggilan sayang lainnya. Meski memang tidak semua anak-anak pengguna media sosial seperti ini, tapi ketika bocah kelas 3 SD, sudah memposting foto ciuman dengan pacarannya, peluk-pelukan, sayang-sayangan, lalu apa yang akan terjadi kepada mereka beberapa tahun kedepan?

Bukan hanya media sosial sih, tapi terbuka luasnya akses anak-anak melihat dunia internet, membuat mereka bebas melihat apapun. Saya jadi ingat percakapan seorang Bapak pembeli pulsa di rumah mertua. Beliau cerita, anak-anak yang nongkrong di warung kopi, yang menggunakan wifi untuk internetan, apa yang dilihat? video porno di youtube. Parahnya lagi seakan Bapak ini membiarkan, bukan malah melarang. Miris memang.

Baiklah, mari kita kembali lagi ke pembahasan tentang kids zaman now. Sebenarnya kita tidak bisa begitu saja menyalahkan anak-anak, lalu membandingkan kehidupan kita dulu dengan mereka sekarang. Dulu kita hidup di era media sosial belum seramai sekarang. Orang-orang yang memiliki hape masih terbatas, karena harganya mahal.

Kids zaman now adalah generasi sekarang, generasi yang hidup di saat teknlogi terutama media sosial sedang naik daun. Bagaimanapun, mereka tetaplah anak-anak, polos, serba ingin tahu, dan tak berdosa. Lantas, salahkah mereka yang sebenarnya adalah korban?

Saya rasa tidak sepenuhnya mereka bersalah. Ada peran andil orang tua, masyarakat dan pemerintah di dalamnya, sehingga mereka bisa seperti itu. Bila setiap hari yang mereka lihat adalah postingan atau tontonan orang pacaran, sayang-sayangan, hidup mewah, maka tak heran mereka pun melakukan yang sama. Sementara orang tua kurang sekali untuk pengawasan dalam hal ini. Belum lagi masyarakat yang seakan menganggap lumrah. Duh, kudu nangis sebenarnya.

Jadi, sebagai pengguna dan penggiat media sosial, juga orang dewasa yang hidup dengan kids zaman now, kini bukan saatnya kita hanya diam lalu menyalahkan dan berkata, “Dasar kamu kidz zaman now, coba contoh aku dulu waktu kecil, bla bla dan seterusnya…, padahal kita hidup di zaman kita dulu, dan mereka hidup di zaman kini. Bila kita balik posisinya, mungkin mereka yang akan seperti kita dan kita seperti mereka.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Setuju dengan Mba’ Ayu, dengan tulisannya tentang kids zaman now, bahwa butuh peran serta orang tua, mendampingi anak-anak ketika bermain gadget.

Masih berdasar tulisan Mba’ Ayu, Bill Gates sang penemu microsft, bahkan melarang anaknya menggunakan gadget sampai usianya 14 tahun. Bandingkan dengan masyarakat kita, yang bahkan balita pun sudah pegang gadget.

Beberapa hari yang lalu saya bahkan menemukan meme tentang Mark, sang penemu facebook. Di meme tersebut terlihat si Mark sedang membantu istrinya memasak. Kemudian memenya bertuliskan kurang lebih,Mark saja sibuk dengan keluarganya, kita malah sibuk facebookan.

Mungkin kita tidak bisa seperti mereka, tapi minimal kita orang tua bisa memantau apa saja yang dilihat oleh anak ketika main gadget. Dulu anak pertama saya juga kecanduan gadget, maunya nonton video terus. Kemudian setelah melewati perjuangan panjang (agak lebay sedikit, nggak apa-apa ya, hehe), akhirnya si Abang bisa diminimalisir, hanya 30 menit dalam sehari. Dengan konsekuensi saya dan suami harus mengendap-ngendap main hape di depan Abang.

Baca juga: Dampak positif dan negatif gadget bagi balita.

Nah, untuk yang belum jadi orang tua, bagaimana?

Saya rasa cukup dengan bijak bermedia sosial, posting hal-hal baik, berhenti menyebarkan berita hoax, kemudian ikut aktif menjadi agen perubahan, minimal dengan tidak mengajak anak-anak melihat tontonan yang tidak senonoh. Lalu melarang mereka melakukab hal tersebut bila melakukannya.

Semoga setelah ini ada juga kebijakan pemerintah yang bisa meminimalisir perilaku negatif kids zaman now ini.

Segitu dulu cerita panjang lebar saya tentang kidz zaman now. Semoga ada hal baik yang bisa diambil dari tulisan ini. Kamu punya pendapat lain? Yuk sharing di kolom komentar, terima kasih. 🙂

 

3 comments

  • Kita aja yang dewasa kayaknya ga pernah puas ya mak sama type terbaru gadget yang makin lama makin canggih.. Gimana anak-anak, huhu. Kita emang benar2 harus bisa menjadi role yang baik buat mereka dalam hal apapun.

  • Aku pun dulu punya hp pertama perlu melas-melas minta bertahun-tahun mak. Sampe kadang si ayah suka pusing sendiri kalo anaknya udah kesorean belum pulang tapi ga bisa dihubungi.. Lah adek-adek aku sekarang baru masuk sd udah pada pegang gadget semua..
    Saampe harus ngendap-ngendap di belakang anak nih mak kalo mau pegang hp? Wah aku salut sama komitmennya mak..
    Semoga kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi kelakuan negatif kids zaman now segera terwujud ya.. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *